Inovasi Bappenas

Diklat Kejuruan – SED-TVET

Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir perekonomian Indonesia telah berkembang secara substansial. Namun demikian beberapa sektor masih kekurangan tenaga kerja terampil untuk menjamin daya saing dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pasar kerja di Indonesia juga ditandai dengan tingginya jumlah generasi muda menganggur, tenaga kerja yang bekerja tak sesuai dengan kompetensinya, dan kualitas hasil pekerjaan yang kurang memadai. Kualifikasi yang dihasilkan institusi pendidikan dan pelatihan kejuruan seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Para tamatan pun seringnya tidak dibekali dengan kompetensi yang diakui. Padahal terbukanya pasar kerja, yang merupakan bagian dari ASEAN Economic Community (AEC), menciptakan tantangan-tantangan baru terhadap kualitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Bentuk

Pemerintah pun berkomitmen mengatasi tantangan tersebut. Langkah yang diambil adalah menata ulang sistem pendidikan dan pelatihan kejuruan. Caranya, upaya-upaya dari seluruh institusi terkait dikonsolidaskan melalui kerja sama dengan sektor swasta. Salah satunya melalui Program Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan melalui Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan atau Sustainable Economic Development through Technical and Vocational Education and Training (SED-TVET). Program ini berlangsung dari bulan Januari 2010 sampai Juni 2017.

Program SED-TVET merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman. Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas lulusan pendidikan dan pelatihan kejuruan dalam rangka memenuhi permintaan pasar kerja di beberapa daerah di Indonesia.

Selain itu, SED-TVET juga menginisiasi kerja sama trilateral (Trilateral Cooperation/Trico) antara Indonesia, Myanmar, dan Jerman. Bentuk kerjasamanya adalah pengembangan kualifikasi guru-guru dan instruktur pendidikan dan pelatihan di Myanmar oleh guru-guru dari Politeknik dan SMK dari Indonesia. Program SED-TVET ini mencakup bantuan teknis yang dilaksanakan oleh GIZ dan bantuan finansial oleh KFW (Bank Pembangunan Jerman).

Pihak Terlibat

Berbagai pihak terlibat dalam program ini, antara lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan Bappenas selaku ketua panitia pengarah. Disamping itu program ini juga merangkul sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

Proses

Program SED-TVET dilaksanakan di beberapa provinsi, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Secara khusus, program SED-TVET di Aceh dan Nias bertujuan untuk mengembangkan sistem pengelolaan pendidikan kejuruan sebagai bagian dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana tsunami.

Strategi utama program ini adalah meningkatkan kerja sama antara institusi pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan sektor swasta. Program ini mencakup peningkatan kapasitas organisasi maupun manajemen di institusi pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Program ini meliputi implementasi dan monitoring regulasi di bidang pendidikan dan pelatihan kejuruan. Juga penjaminan mutu dan sertifikasi di bidang pendidikan dan pelatihan kejuruan di beberapa sektor ekonomi terpilih.

Konsolidasi antara pemangku kepentingan dan mitra kerja terus dilakukan untuk menyempurnakan model dan instrumen yang telah dikembangkan selama kurun 5 tahun pertama program SED-TVET. Program ini juga mengadopsi berbagai keberhasilan dari proyek sebelumnya, yaitu Indonesian-German Institute (IGI), yang mengembangkan 5 center of excellence dengan 17 institusi mitra. Institusi yang terlibat dalam proyek IGI pun didapuk menjadi pelatih dalam menyebarkan metode pembelajaran teaching factory.

Perkembangan Terkini

Program SED-TVET ini dinilai cukup berhasil, sehingga dilanjutkan dengan proyek bertajuk Innovation and Investment for Inclusive Sustainable Economic Development (ISED). Tujuan proyek lanjutan tersebut untuk memperkuat kapasitas aktor swasta dan publik dalam mendorong pasar kerja yang inklusif dan berkesinambungan. 

Untuk memberikan dampak yang lebih luas diperlukan juga penguatan di tingkat sistem dan prosedur. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melanjutkan kerja sama dengan Pemerintah Jerman dalam proyek Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan/TVET System Reform (TSR). Proyek reformasi ini bertujuan untuk membangun sistem dan mekanisme yang lebih sempurna.

Potensi Replikasi

Teaching factory adalah metode pembelajaran yang mengintegrasikan aspek soft skills dengan praktek (tindakan). Tujuannya agar siswa tidak hanya sebatas mengetahui (knowing), tetapi juga dilatih praktek terus-menerus sehingga terbentuk kebiasaan (attitude). Kebiasaan ini diharapkan melekat ke dalam dirinya ketika memasuki dunia kerja. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mereplikasi metode ini pada 114 SMK di Indonesia. Sedangkan target replikasi sampai tahun ini adalah 569 SMK. Kementerian Perindustrian juga mereplikasi metode tersebut pada 4  SMK dan 4 Politeknik di Indonesia.

Selain metode teaching factory, sistem lain yang juga dapat direplikasi adalah pemantauan bakat dan pemanduan karir (career guidance) dari lulusan SMK ke dunia kerja. Sistem tersebut selain dapat digunakan untuk memonitor secara intensif kualitas tamatan pendidikan/pelatihan kejuruan, tetapi sekaligus untuk mempersiapkan para lulusan memasuki dunia kerja. Hingga saat ini layanan pemanduan karir tersebut telah diterapkan di 15 SMK, yang mencakup 2.000 lulusan setiap tahunnya.

Tantangan/Kendala

Dalam pelaksanaannya, beberapa tantangan masih harus dihadapi. Tantangan pertama adalah koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi antar pemangku kepentingan yang belum optimal. Birokrasi kerja sama keuangan yang tidak sederhana juga berpotensi menjadi hambatan. Pada sisi lain, konsistensi kebijakan dianggap masih lemah akibat pergantian kepemimpinan di institusi pendidikan dan pelatihan kejuruan. Terakhir, replikasi model tersebut masih terkendala oleh peraturan. Misalnya pada program Dapodik dan pengelolaan keuangan teaching factory.

Analisis Dampak Sosial Ekonomi Peningkatan kualitas lulusan pendidikan dan pelatihan kejuruan di Indonesia berdampak kepada perkembangan ekonomi yang inklusif dan berkesinambungan. Selain itu, peningkatan tersebut juga berdampak pada pembiayaan insitusi kejuruan yang lebih murah tetapi dengan kualitas lulusan yang lebih sesuai dengan permintaan industri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *