Inovasi K/L

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI)

Tentang Program:

Pemerintah Indonesia dan Australia sejak tahun 2016 menjalin kemitraan melalui program INOVASI (Inovasi untuk Anak-anak Sekolah Indonesia) yang bertujuan menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar (terutama di kelas-kelas awal) di berbagai kabupaten di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi (calistung).

Model pembangunan di bidang pendidikan ini dimulai dengan mengujicobakan (dalam skala terbatas) berbagai macam program rintisan (pilot) yang sesuai konteks permasalahan yang ada di 17 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat; Nusa Tenggara Timur; Kalimantan Utara; dan Jawa Timur. Pendekatan unik yang dilakukan INOVASI adalah bahwa program-program rintisannya dirancang berdasarkan masalah lokal yang menjadi prioritas di daerah tersebut. Dengan demikian, menawarkan solusi yang ‘paling cocok’, dan bukan solusi ‘satu untuk semua’ yang tidak selalu relevan untuk Indonesia dengan konteks budaya yang beragam.

Program ini bekerja secara langsung di tingkat daerah di bawah MOU antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Pemerintah Provinsi, dan juga MoU antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten. Beberapa program rintisan juga dilaksanakan di madrasah, atau satuan pendidikan Islam di lokasi tertentu. Keterlibatan dengan Kementerian Agama (Kemenag) ini memungkinkan Kemenag untuk mengujicobakan sistem pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) yang baru dirancang – yang dikembangkan dengan dukungan dari program TASS (Bantuan Teknis untuk Penguatan Sistem Pendidikan) yang juga didanai Pemerintah Australia.

Latar Belakang:

Pemenuhan akses, salah satunya terhadap pendidikan, adalah layanan dasar yang sifatnya krusial bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa Indonesia dan berpengaruh langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kualitas SDM yang baik tentu akan sangat berpengaruh terhadap pembangunan daerah. Dalam hal akses pendidikan dasar, Indonesia telah banyak mengalami kemajuan di mana dalam 15 tahun terakhir ini pengeluaran pemerintah Indonesia meningkat dua kali lipat dan pendaftaran siswa di sekolah dasar hampir mencapai 100%. Namun, meskipun kini ada lebih banyak anak yang bersekolah, hal ini belum menuangkan hasil belajar siswa yang lebih baik1. Keterampilan literasi menjadi penting mengingat berbagai mata pelajaran memerlukan kemampuan siswa untuk membaca dengan baik – tidak sekedar mampu membaca, tetapi mampu memahami bacaan. Tentu dengan memiliki kecakapan tersebut, maka akan semakin baik pula prestasi belajar siswa.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa di Indonesia, berbagai inisiatif dilakukan dengan menerapkan ‘satu solusi untuk semua masalah,’ namun ternyata pendekatan seperti itu belum mampu memberikan hasil yang berkelanjutan. Bentuk pendekatan yang diterapkan tersebut juga tidak selalu relevan bagi Indonesia dengan konteks multi-budayanya.

Pihak Terlibat:


  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

  • Kementerian Agama

  • Pemerintah Australia (DFAT Australia)

  • Pemerintah Provinsi (NTB, NTT, Kalimantan Utara, Jawa Timur)

  • Pemerintah Kabupaten/Kota dan Desa (Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Bulungan, Malinau, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Sumenep, dan Kota Batu);

  • LP Ma’arif NU dan Muhammadiyah;

  • 18 Asosiasi pendidikan, LSM, dan universitas di Indonesia

Dampak:

Para guru dampingan yang terlibat dalam program rintisan INOVASI telah mempelajari metode dan alat baru untuk mengeksplorasi masalah pembelajaran literasi dan numerasi yang mereka hadapi di kelas, tentunya dengan dukungan dari  para fasilitator lokal program. Melalui penggunaan pendekatan PDIA yang berkelanjutan dan berdasarkan konteks masalah lokal, banyak guru di kabupaten mitra INOVASI yang mengalami perubahan pola pikir, yang kini memahami bahwa pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat lebih mengarah pada peningkatan hasil belajar siswa di kelas.

INOVASI berupaya menemukan jawaban untuk pertanyaan ‘apa yang terbukti berhasil meningkatkan hasil belajar siswa?’, yaitu dengan mengujicobakan program-program rintisan yang sesuai konteks di daerah untuk: Meningkatkan proses pengajaran dan pembelajaran di kelas; Memberikan dukungan yang lebih baik kepada guru sehingga mereka dapat mengajar lebih efektif di kelas; dan Memungkinkan semua anak di kelas mencapai potensi belajar mereka.

Pada akhir program, ketika semua program-program rintisan telah dilaksanakan, kabupaten dan provinsi dampingan program diharapkan mampu menerapkan dan meningkatkan pendekatan yang relevan dan sesuai konteks di daerah mereka,  demi untuk meningkatkan hasil belajar siswa – sebagaimana yang telah dilakukan selama program-program INOVASI berlangsung.

Proses:

Program INOVASI mengadopsi prinsip-prinsip pelaksanaan program yang adaptif sehingga strategi, rencana, dan pendekatan secara terus menerus ditinjau dan diperbaharui selama pelaksanaan program. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan pendekatan top-down yang cenderung menggunakan solusi dengan asumsi bahwa ‘satu solusi cocok untuk semua permasalahan’. Berbagai program rintisan INOVASI dilakukan secara bottom-up dengan fokus menemukan cara-cara yang terbukti efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa, baik itu melalui penguatan praktik pengajaran di ruang kelas; meningkatkan bentuk dukungan yang diberikan kepada guru; serta memastikan bahwa semua anak di kelas dapat belajar sesuai potensinya masing-masing.

Fokus program adalah membangun kapasitas lokal agar mampu mengatasi tantangan pembelajaran mendesak dengan solusi atau cara-cara yang dapat dikonsolidasikan ke dalam sistem yang ada. Program-program rintisan INOVASI dan intervensi dilakukan tidak hanya kepada  para guru yang menjadi ujung tombak pendidikan, tetapi juga di level sekolah, gugus, dan kabupaten untuk melakukan perubahan.

Semua tahap uji coba melibatkan pemangku kepentingan lokal termasuk perwakilan dari pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat dan organisasi setempat. Bersama-sama, INOVASI dan para pemangku kepentingan lokal ini mengeksplorasi dan memahami konteks lokal à merancang solusi à mengujicobakan solusi (program rintisan) – disertai umpan balik dan iterasi à  serta mengevaluasi, mendokumentasikan dan membagikan hasil dari pelaksanaan program rintisan, mulai dari rencana, proses implementasi, dan pelajaran yang dipetik.

Proses Replikasi:

Indikator keberhasilan Program INOVASI ditentukan oleh terjadinya replikasi oleh mitra program, yaitu pemerintah kabupaten dan provinsi. Hal ini berarti mitra program memperluas praktik dan pendekatan pendidikan yang telah terbukti berhasil dilakukan. Jika diperlukan, INOVASI dapat mendukung proses replikasi program dengan menyediakan materi dan melatih fasilitator daerah. INOVASI juga dapat melakukan kegiatan pemantauan, evaluasi dan komunikasi bagi kegiatan replikasi program. Selain itu juga memastikan agar para pemangku kepentingan daerah dan pusat memiliki akses ke berbagai bukti atau temuan tentang cara-cara yang terbukti berhasil dilakukan (maupun yang tidak berhasil) dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian, INOVASI membekali mitra program dengan pengetahuan yang diperlukan agar dapat melaksanakan replikasi program dengan baik dan meninggalkan praktik yang berkelanjutan dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari donor atau pemerintah.

Perluasan praktik dan pengembangan kebijakan sudah dapat ditemui di NTB, NTT dan Kalimantan Utara. Anggaran tahun 2019 juga telah disepakati oleh ketiga provinsi tersebut, beserta Jawa Timur. Pada tahun 2018 silam, alokasi APBD guna mendukung program rintisan berjumlah sekitar Rp6 milyar.

Perkembangan Terkini:

Saat ini, 47 program rintisan INOVASI dilaksanakan di 17 kabupaten mitra, termasuk program-program rintisan yang dilakukan INOVASI melalui program hibahnya. Hasil kunci termasuk:


  • Dari bulan Juli – Desember 2018, sebanyak 576 fasilitator lokal, 1.164 guru, 220 kepala sekolah dan pengawas, 706 sekolah telah terlibat dalam program-program rintisan INOVASI, yang berarti berdampak pada 64.657 siswa SD/MI

  • Perkembangan dalam hal perluasan program dan dukungan kebijakan di Provinsi NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur dimana ini termasuk dalam anggaran daerah untuk tahun 2019. Alokasi dana pemerintah daerah (APBD) untuk meningkatkan dan mendanai (co-funding) pelaksanaan program rintisan INOVASI pada tahun 2018 berjumlah sekitar Rp6 miliar.

  • Sebagai hasil dari program rintisan INVOASI dan dukungan kebijakan pemerintah daerah, banyak kabupaten kini mengembangkan kebijakan dan program-program untuk melembagakan pendekatan yang lebih baik ke dalam sistem. Ini termasuk:

    • Kebijakan penyediaan buku bacaan non-teks untuk mendorong program literasi dan budaya baca;
    • Keterlibatan anak-anak penyandang disabilitas dan yang termarginalkan;
    • Program pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) untuk para guru

  • INOVASI mengidentifikasi adanya peluang untuk mengintegrasikan temuan dan pembelajaran dari program rintisan yang sedang berlangsung ke dalam kebijakan yang ada. Hal ini termasuk pengembangan peta jalan kebijakan pendidikan di bidang literasi dan inklusi. INOVASI juga menyumbangkan bukti dan pengetahuan untuk rencana pembangunan daerah (RPJMD), memastikan bahwa fokus pada hasil pembelajaran.

  • Sebagai contoh, Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah (Bappeda) di Sumba Tengah telah sepakat untuk memasukkan target peningkatan kualitas, di antara indikator terkait lainnya dalam rencana pembangunan mereka. Kabupaten Sumba Tengah juga meminta INOVASI untuk memfasilitasi proses persiapan untuk rencana pembangunan daerah dan rencana strategis untuk pendidikan.

Tantangan dan Kendala:

Hal-hal yang menjadi tantangan dan kendala dalam pelaksanaan program termasuk:


  • Melaksanakan program dengan menggunakan pendekatan solusi lokal untuk tantangan lokal (PDIA) pada sektor pendidikan, serta mendokumentasikan temuan dan pembelajaran yang dipetik secara efektif (umpan balik yang cepat dan berkelanjutan) agar bisa menjadi bekal atau masukan bagi implementasi ataupun iterasi program.

  • Mengumpulkan bukti-bukti kredibel yang dapat menginformasikan prioritas kebijakan pemerintah pusat, dan dengan demikian menjadi bekal dalam pengambilan keputusan.

Tantangan lainnya terkait dengan keberlanjutan program rintisan setelah INOVASI selesai. Meskipun beberapa pemerintah kabupaten mitra telah siap mengalokasikan dana untuk mendukung perluasan dan replikasi program rintisan, namun tantangan bagi INOVASI sesungguhnya memastikan bahwa daerah siap untuk mendukung perluasan ini. Kesiapan yang dimaksud termasuk kesiapan untuk mendesain program rintisan, pemantauan dan evaluasi, sumber daya manusia, dan proses operasional. Saat ini, pemerintah daerah mitra menggunakan model fasilitator daerah (Fasda) untuk mendukung perluasan dan kegiatan program rintisan. INOVASI akan terus bekerja untuk mengatasi tantangan ini dengan kabupaten mitra dalam 12 bulan mendatang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *