FeaturedInovasi Bappenas

Kemitraan Pertanian Berkelanjutan – PISAgro

Latar Belakang

Pada bulan Juni 2011 telah diselenggarakan pertemuan Forum Ekonomi Dunia tingkat Asia Timur di Jakarta. Pada kesempatan tersebut Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan Indonesia untuk pertama kalinya mencetuskan konsep wadah kemitraan pertanian yang berkelanjutan. 

Bentuk

Wadah kemitraan publik-swasta ini bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan produksi komoditas pertanian secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani kecil.

Oleh karena itu, pada tanggal 20 April 2012 dibentuklah suatu program kemitraan bernama Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) atau Kemitraan Pertanian Berkelanjutan. Kemitraan ini beranggotakan instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, perusahaan swasta nasional, perusahaan multinasional, lembaga keuangan, dan pihak luar negeri. Visi kemitraan ini adalah peningkatan 20% produksi pertanian, peningkatan 20% pendapatan petani, dan penurunan 20% gas rumah kaca dalam satu dekade. Peningkatan produksi dicapai dengan meningkatkan pengetahuan, menyediakan akses teknologi dan keuangan, serta memberi bibit unggul pada petani. Untuk meningkatkan pendapatan, petani memperoleh pengikatan perjanjian standar untuk memastikan penyerapan hasil panen  serta meningkatkan pengetahuan pengolahan paska panen. Untuk menurunkan gas rumah kaca, diupayakan intensifikasi pertanian dan meningkatkan penggunaan lahan untuk mencegah penggundulan hutan.

Pihak Terlibat

Bayer Indonesia, Cargil Indonesia, Dow AgroSciences, Great Giant Pineapple, Indofood, Kirana Megatara, KIBIF, Louis Dreyfus Company, McKinsey & Company Indonesia, Nestle Indonesia, Rabobank Indonesia, Sinar Mas, Syngenta Indonesia, Unilever Indonesia, Yara Indonesia, Telkomsel, Koltiva, Bank BTPN, BNI, Bank Andara, BRI, BRI Agro, PTPN, sarana tani, IPB, UGM, BPR Pesisir Akbar, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Budaya, Invivo Indonesia, Koperasi, Balai Insiminasi Buatan Singosari, PT Suryonusa Agromakmur, PT Triputra Agro Persada (TAP), Instiper, STIPAP Medan, LPP Yogyakarta Universitas Mataram, Tiga Pilar Sejahtera, Triputra Agro Persada, Indonesia Palm Oil Association (GAPKI), Bulog, Pemerintah Daerah, SPKS (Palm Oil Smallholders Union, Australian Government Department of Foreign Affair & Trade (DFAT), International Finance Corporation (IFC), Mercy Corps Indonesia, Sustainable Trade Initiative (IDH), Swisscontact, UTZ Certified, 8villages, Rainforest Alliance, Vasgam, Winrock International, Sregrip GIZ, Eragano, Kubota, dan Fice Vocational Highschool (SMKs).

Proses

Pada tahun 2018 PISAgro membentuk 12 kelompok kerja (working group). Sepuluh grup mengelola sepuluh komoditas, satu grup sebagai lembaga keuangan, dan satu sebagai lembaga pelatihan. Sepuluh komoditas yang menjadi fokus adalah coklat, kopi, jagung, susu, tanaman hortikultur, kelapa sawit, kentang, karet, kedelai, dan penggemukan sapi.

Setiap kelompok kerja bertugas mengembangkan rantai nilai (value chain) dan memetakan rencana kerja untuk masing-masing komoditas. Ini mencakup kebutuhan pokok produksi, target produksi, target pelatihan, dan jangka waktu proyek. Setiap kelompok kerja membuat satu proyek percontohan yang melibatkan mitra kerja. Dalam pelaksanaannya, proyek  percontohan tersebut akan mengaplikasikan rantai nilai berupa pelatihan manajemen budidaya untuk mengakses pembiayaan dan pasar. 

Perkembangan Terkini

Hingga saat ini PISAgro telah menandatangani nota kesepahaman dengan lembaga keuangan BRI Agro dan BPDP-KS untuk memberikan akses keuangan kepada petani sawit dalam mendukung program replanting. Para pemangku kepentingan setuju mendukung 750 petani dalam 12 bulan pada lahan seluas 1.500 hektar. Sementara itu harian The Jakarta Post sepakat bekerjasama dengan PISAgro untuk mensosialisasikan isu keberlanjutan pertanian kepada masyarakat luas. Dari kerjasama ini diharapkan visi PISAgro 20-20-20 dapat sampai pada para pemangku kepentingan untuk meningkatkan feeder kepada petani.

PISAgro juga berpartisipasi dalam studi lapangan Grow Asia, tentang keberlanjutan proyek kopi yang dipimpin Nestle Indonesia di Lampung. Hasil studi lapangan menunjukkan keberhasilan kemitraan antara petani dengan para pemangku kepentingan dalam pengembangan produktifitas petani kopi di Tanggamus, Lampung.

Potensi Replikasi

Kegiatan PISAgro sangat berpotensi untuk direplikasi ke wilayah lain. Melalui kemitraan yang dibangun melalui PISAgro, diharapkan petani, peternak, dan nelayan mampu meningkatkan kapasitas usaha dan mendapatkan akses pasar, baik lokal maupun internasional. Rantai nilai yang selama ini dianggap terlalu panjang, yang selalu menjerat petani, diharapkan dapat dipangkas dengan kemitraan yang dibangun oleh PIS Agro dan mitra-mitranya. 

Tantangan

Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program ini. Saat ini feeder perusahaan besar yang menjadi mitra dari PISAgro masih menjadi kendala. Akibat tingginya resiko usaha pertanian membuat perusahaan keuangan seperti perbankan dan asuransi masih enggan memberikan bantuan permodalan. Di sisi lain, pemerintah memerlukan regulasi terkait dengan sertifikasi bibit. Saat ini masih banyak bibit berkualitas kurang baik. Ini menimbulkan kerugian yang cukup tinggi, terlebih jika bibit yang ditanam merupakan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit. Untuk memperluas skala pengembangan, masih diperlukan dialog antara PISAgro, Kementerian Koordinator, dan Kementerian sektoral.

Analisis Dampak Sosial Ekonomi

Kegiatan ini telah memacu peningkatan produktivitas petani, peningkatan manajemen budidaya pertanian dengan GAP (Good Agricultural Practice), peningkatan pendapatan petani, dan akses kepada pasar yang lebih luas.

Salah satu contoh keberhasilan PISAgro tampak dalam kegiatan kelompok kerja jagung. Dengan luas lahan yang berhasil ditingkatkan dari 1,5 hektar menjadi 2 hektare, produksi meningkat dari 8 ton per hektar menjadi 8,5 ton per hektar. Intervensi dilakukan dengan cara meningkatkan akses pembiayaan dan layanan keuangan, pemanfaatan akses bibit jagung hibrida, penyediaan teknologi, hingga akses pasar. Ujungnya pendapatan bersih petani meroket, dari Rp 6,4 juta menjadi hampir tiga kali lipat, yaitu sebesar Rp 17,5 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *