Inovasi Bappenas

Koneksi Internet Cepat Universal

Latar Belakang

Saat ini internet sudah hampir menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian lapisan masyarakat. Dan perkembangan teknologi Internet semakin cepat dan kaya, baik dari aspek pemanfaatan maupun muatan (content). Kolaborasi antar pihak yang terpisah oleh jarak pun sekarang dimungkinkan dengan akses Internet cepat, tanpa harus saling bertatap muka secara langsung. Namun kenikmatan teknologi ini belumlah dirasakan merata di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Struktur Kerjasama Proyek KPBU Palapa Ring

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), akses internet cepat baru dinikmati penduduk di kota-kota di Pulau Jawa. Akses tercepat bisa dinikmati di Kota Tangerang (7,80 Mbps), dan disusul ibukota Indonesia, DKI Jakarta (7,25 Mbps). Tiga kota lain yang memiliki akses Internet yang relatif sama adalah Bekasi (4,29 Mbps), Surabaya (4,17 Mbps), dan Bandung (3,95 Mbps).

Keadaan ini mengindikasikan bahwa jaringan tulang punggung (backbone) serat optik di Indonesia belum merata. Di luar Jawa, pengguna Internet masih harus membayar mahal dan belum menikmati layanan secara optimal. Padahal internet dan komunikasi semakin diperlukan dalam menjawab tuntutan pertumbuhan ekonomi. Karena itulah solusi berskala nasional harus menjadi jawabannya.

Pihak Terkait

Sebagai proyek nasional, Palapa Ring melibatkan berbagai instansi pemerintah. Tercatat tiga kementerian yang turut serta menangani proyek ini, seperti Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan, dan tentu saja Kementerian Kominfo. Selain itu proyek ini melibatkan berbagai pihak, seperti Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII/IIGF), dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).

Proses

Dalam pembangunannya, proyek Palapa Ring dibagi ke dalam tiga paket, yaitu Paket Barat, Paket Tengah, dan Paket Timur. Paket Barat menjangkau wilayah Riau, Kepulauan Riau, sampai dengan Natuna. Sedangkan Paket Tengah menjangkau wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara, sampai dengan Kepulauan Sangihe Talaud. Paket Timur akan menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Di wilayah kepulauan, Palapa Ring dibangun menggunakan metoda submarine (bawah laut). Serat optik dibentangkan di dasar laut menuju garis pantai, sebelum diteruskan ke daratan. Total panjang kabel yang dibentangkan dapat mencapai 13.000 km, dengan kapasitas 8×10 Gbps. Sementara itu di wilayah daratan, seperti kebanyakan wilayah Paket Tengah, kabel ditanam di bawah tanah untuk menghubungkan setiap daerah.

Setiap paket proyek Palapa Ring dibangun oleh konsorsium pihak swasta yang bergerak di bidang telekomunikasi. Sebagai imbalan, mereka akan mendapatkan masa konsensi selama lima belas tahun. Saat ini Palapa Ring Paket Barat tahap 1 telah beroperasi penuh secara komersial sejak 11 Februari 2018. Sementara Paket Tengah dan Pake Timur masih dalam proses pembangunan.

Proyek KPBU Palapa Ring telah menjadi proyek percontohan dalam penerapan skema pengembalian investasi dengan pembayaran berdasarkan ketersediaan layanan. Pada sektor TIK sendiri, proyek KPBU Palapa Ring menjadi proyek percontohan bagi proyek Satelit Multifungsi dan proyek Sistem Kesejahteraan Sosial Terpadu Nasional (SKSTN).

Perkembangan Terkini Proyek KPBU Palapa Ring menjanjikan kecepatan 10 Mbps di pedesaan dan 20 Mbps di perkotaan untuk keseluruhan paket beroperasi pada awal tahun 2019. Saat ini, yang sudah mulai beroperasi adalah Palapa Ring paket barat. Berikut tabel status terkini dari ketiga paket Palapa Ring.

Tabel 1. Status dan Timeline Proyek KPBU Palapa Ring

Potensi Replikasi

Proyek KPBU Palapa Ring telah menjadi proyek percontohan khususnya dalam penerapan skema pengembalian investasi dengan pembayaran ketersediaan layanan. Pada sektor TIK sendiri, proyek KPBU Palapa Ring sendiri telah menjadi proyek percontohan bagi proyek Satelit Multifungsi dan proyek Sistem Kesejahteraan Sosial Terpadu Nasional (SKSTN).

Tantangan/Kendala

Tantangan yang dihadapi pada proyek KPBU Palapa Ring adalah pembangunan infrastruktur TIK di sebagian wilayah Indonesia, khususnya di Papua. Keputusan berdasarkan kepentingan bisnis oleh operator telekomunikasi dalam membangun infrastruktur semakin melebarkan kesenjangan tingkat penetrasi internet. Untuk mengatasinya, Pemerintah berkomitmen mengupayakan kesetaraan akses dan tarif. Ini ditunjukkan dalam komitmennya membangun proyek Palapa Ring dengan skema KPBU.

Selain masalah infrastruktur, upaya sosialisasi pentingnya literasi digital kepada masyarakat juga perlu dilakukan untuk menciptakan kegiatan produktif dan meningkatkan kesejahteraan. Literasi harus ditingkatkan agar masyarakat dapat memilah dan memilih informasi yang benar. Ekonomi digital tidak dapat direalisasikan selama masyarakat Indonesia mengalami ketimpangan akses internet serta ketimpangan kemampuan memilih dan memilah informasi.

Analisis Dampak Sosial Ekonomi

Kehadiran Palapa Ring akan membuahkan berbagai dampak positif. Dengan teknologinya, kita mendapatkan jaminan kualitas internet dan komunikasi berkualitas tinggi, aman, dan murah. Penyerapan ilmu pengetahuan akan semakin cepat. Kedaulatan negara dan ketahanan nasional akan semakin kuat. Jarak dan tembok batas geografi akan terlampaui, sehingga komunikasi bisa berjalan dengan mudah. Dampaknya, pertumbuhan dan pemerataan pembangunan sosial-ekonomi masyarakat semakin cepat, dan  kehidupan akan menjadi lebih baik. Dampak ini terlihat dalam laporan  Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan adanya peningkatan kontribusi pasar digital terhadap PDB Indonesia tiap tahun serta penyerapan tenaga kerja. Dalam jangka panjang, Indonesia diprediksi berpotensi menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *