Inovasi Bappenas

Pemberdayaan Petani dan Koperasi

Latar Belakang

Kawasan Indonesia Timur berpotensi besar menjadi lumbung pangan Indonesia  dalam rangka mencapai katahanan dan kedaulatan pangan nasional. Namun sayangnya, pengembangan pertanian dan tata produksi di kawasan timur masih belum optimal. Sistem pertanian yang dikembangkan juga masih bertumpu pada corak lama. Persoalan yang dihadapi masih kompleks, mencakup faktor geografis, infrastruktur, teknologi, serta pengetahuan yang masih rendah.

Bentuk

Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan petani berpenghasilan rendah dan koperasi di Indonesia Bagian Timur. Salah satu proyek yang diluncurkan adalah kerjasama pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat senilai USD 2 juta di Sulawesi Selatan, NTT, dan Papua, yang bertajuk Indonesia Cooperative Business Development Alliance (ICBDA).

Pihak Terlibat

Inilah contoh public private partnership, proyek kerja sama yang melibatkan empat pihak: pemerintah, mitra donor, mitra koperasi, dan mitra swasta. Pemerintah melibatkan instansi di tingkat nasional dan daerah. Pada tingkat nasional, pemerintah diwakili oleh Bappenas, Kementerian Koperasi dan UKM, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (ICCRI), dan Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Indonesia (RILET). Sedangkan instansi daerah diwakili oleh Pemprov Papua, Pemprov Sulsel, Pemprov NTT, Pemda Bulukumba, Pemda Jayapura, dan Pemda Timor Tengah Selatan. Proyek ini didanai oleh USAID dan dilaksanakan oleh National Cooperative Business Association Clausa (NCBA Clausa). Sedangkan koperasi yang dilibatkan adalah KSU Nimboran Kencana, KJUB Puspeta, dan Puskud. Pihak swasta pun dilibatkan dalam proyek ini, baik dari swasta lokal maupun internasional. Adalah PT Agri Spice Indonesia (PT ASI) dan PT Cooperative Business International (PT CBI Indonesia) yang menjadi mitra swasta lokal. Sedangkan mitra swasta internasional antara lain McCormick Global Ingredients Company, Pepsi-Cola, Whole Foods Market, Seattle’s Best Coffee LLC, Kentucky Fried Chicken, Santa Maria, Ducros, Tazo, dan Starbucks Coffee Trading Company.

Proses Rantai Nilai

Proyek ini dilaksanakan pada bulan September 2012 sampai dengan September 2015, dan diperpanjang hingga Maret 2016. Tujuannya adalah mengembangkan para petani kecil dan sektor bisnis koperasi di wilayah timur Indonesia. Tujuan tersebut dicapai melalui peningkatan hasil produksi panen dan diversifikasi tanaman, manajemen pasca-panen, dan pemasaran. Khusus untuk pemasaran, strategi yang dijalankan adalah  memperkuat koperasi pertanian lokal melalui teknologi dan kerja sama jaringan pemasaran dengan para mitra. Saat ini komoditas pertanian yang ditingkatkan adalah singkong, lada, dan vanili.

Sebagai pilot project, dipilih daerah-daerah antara lain Bulukumba (Sulawesi Selatan), Timor Tengah Selatan/SOE (NTT), dan Sentani (Papua).

Dalam memberdayakan petani dan koperasi, peningkatan nilai tambah pertanian dilakukan melalui beberapa kegiatan utama. NCBA melaksanakan pelatihan dalam pemilihan lokasi, penyemaian, rehabilitasi lahan, teknik penyiangan dan penanaman, proses panen dan paska panen, termasuk penyediaan alat (pisau, alat potong, dan terpal). Sedangkan koperasi melakukan pengembangan sistem pengadaan, distribusi benih (in-kind loan), transportasi, penyimpanan, pengawetan, pemrosesan, dan penjualan. Kemudian hasil panen petani akan dibeli oleh PT. Agrispice Indonesia dan koperasi mitra. Selain itu dilaksanakan pula pembangunan gudang penyimpanan, pusat pengawetan, asrama karyawan, dan perkantoran di Jayapura.

Proses rantai nilai dari peningkatan nilai pertanian di atas dilakukan dengan beberapa kegiatan utama, yaitu:

Perkembangan Terkini

Hingga bulan September 2015, model pembangunan ini telah dilaksanakan di 14 kabupaten dengan luas lahan 2.188 Ha. Program kemitraan pemerintah-swasta ini mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 11.844 orang. Komoditas yang dihasilkan berkualitas ekpor dan bernilai jual tinggi di pasar internasional, dengan total volume mencapai 37.494 ton. Selain itu, kegiatan ini mampu mengatasi permasalahan kemiskinan, meningkatkan pemberdayaan masyarakat, sekaligus meningkatkan taraf hidup dan perekonomian petani kecil.

Perkembangan per bulan September 2015, model pembangunan ini telah dilaksanakan di 14 kabupaten dengan luas lahan 2.188 Ha. Program kemitraan pemerintah-swasta ini mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 11.844 orang dan menghasilkan komoditas berkualitas ekpor sebanyak 37.494 ton.

Tantangan dan Potensi Replikasi

Meski demikian, ada tantangan dan hambatan dalam mengembangkan model pembangunan melalui program kemitraan pemerintah-swasta semacam ini. Komoditi ekspor potensial harus memiliki jaminan pasar yang berkelanjutan di negara donor. Selain itu, ada kesulitan tersendiri dalam mencari mitra swasta, karena sebagian besar pemain industri pengolahan makanan masih berskala kecil. Alokasi sumber pendanaan untuk menggantikan peran mitra donor juga menjadi tantangan tersendiri.

Dampak

Kegiatan ini telah memberikan dampak bagi pihak-pihak yang terlibat. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan USAID — sebagai mitra donor — telah berupaya memberdayakan rumah tangga petani berpenghasilan rendah di wilayah pedesaan dan terpencil di Indonesia Bagian Timur. Caranya melalui peningkatan pengetahuan pertanian, produktivitas, peningkatan penghasilan, dan ujungnya kesejahteraan mereka. Bagi Koperasi Mitra (NCBA, KJUB Puspeta Luwu, KSU Nimboran Kencana, PUSKUD NTT), program ini memberikan kesempatan berpartisipasi dalam inisiatif pengembangan pertanian yang profesional. Tujuannya adalah menghasilkan produk dan komoditas bernilai jual tinggi dengan kualitas ekspor. Sementara itu bagi mitra swasta seperti PT. CBI Indonesia, PT. Agrispice Indonesia, dan McCormick Company), kegiatan ini meningkatkan profitabilitas dan menciptakan lapangan kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *