Inovasi Bappenas

Peningkatan Produktivitas Petani

Latar Belakang

Dalam lima belas tahun terakhir struktur ekonomi Indonesia telah bergeser secara signifikan. Sektor pertanian tak lagi menjadi andalan utama dan komposisi perekonomian menjadi lebih menyebar. Saat ini sektor industri dan jasa layanan telah memberikan porsi terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia. Meski demikian, mayoritas penduduk miskin berada di wilayah pedesaan dan masih bergantung pada sektor pertanian. Berbagai studi menunjukkan bahwa pembangunan sektor pertanian lebih efektif untuk mengentaskan kemiskinan di pedesaan. Pun sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dan merupakan kegiatan ekonomi utama di wilayah timur Indonesia.

Bentuk

Bertolak dari kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia dan Australia bekerja sama untuk memperkuat daya saing pertanian, terutama bagi petani kecil. Dalam Program Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (AIP-PRISMA), kedua negara ini juga bekerja sama dengan swasta untuk meningkatkan produktivitas sektor-sektor pertanian dan memperkuat akses ke sarana produksi pertanian dan pasar pasca-produksi. Selain itu program ini juga bertujuan untuk mendorong inovasi dan memperbaiki iklim usaha pertanian di daerah. Target program ini adalah untuk menaikkan pendapatan bersih sebesar 30 persen bagi 300.000 rumah tangga petani di kawasan Indonesia timur pada periode Oktober 2013 – Desember 2018. 

Sepanjang tahun 2013 sampai 2018, PRISMA telah diterapkan di beberapa provinsi, seperti Jawa Timur, NTB, NTT, Papua Barat, dan Papua. Dalam kurun waktu tersebut, PRISMA bekerja pada 23 komoditas/sektor dan 142 kegiatan/intervensi berbasis komoditas, seperti jagung, sapi, kedelai, dan lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan petani, PRISMA menggunakan pendekatan pengembangan sistem pasar. Pendekatan ini akan meningkatkan daya saing petani skala kecil dan membuka akses ke pasar, input pertanian, keterampilan, dan teknologi yang lebih baik.

Pihak Terlibat

Pencapaian ini pun tak lepas dari kemitraan antara institusi pemerintah, swasta, dan masyarakat. Institusi pemerintah yang terkait adalah Kementerian PPN/Bappenas dan pemerintah daerah. Sedangkan mitra yang terlibat berasal dari perusahaan swasta, lembaga keuangan, dan LSM.

Proses

PRISMA menerapkan pendekatan pengembangan sistem pasar (market system development). Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing petani kecil,  membuka akses pasar, akses input pertanian, akses keterampilan dan teknologi, yang dapat mendukung peningkatan pendapatan petani. PRISMA bermitra secara on-farm maupun off-farm. Melalui skema kemitraan, program ini dapat memacu pertumbuhan di sepanjang rantai nilai dengan mengatasi kendala yang menghambat pertumbuhan sektor pertanian.

PRISMA menawarkan di antaranya: (1) Solusi bisnis yang inovatif, berkelanjutan, dan ko-investasi untuk meringankan risiko investasi; (2) Mediasi antar pelaku pasar (kelompok tani, asosiasi pedagang, dan organisasi keanggotaan bisnis) dengan petani kecil untuk menciptakan pola usaha yang menguntungkan dan efektif; (3) Dukungan terhadap program Pemerintah Indonesia dalam perannya memperkuat daya saing sektor pertanian; (4) Identifikasi sektor-sektor yang memiliki potensi peningkatan pendapatan petani kecil, serta pelaku pasar yang memiliki potensi penunjang; (5) Kajian faktor-faktor penghambat pertumbuhan sektor pertanian; (6) Fasilitasi untuk meningkatkan efisiensi sistem pasar tanpa menyebabkan ketimpangan hubungan antar pelaku pasar.

Perkembangan Terkini

Penerapan program PRISMA mampu memenuhi harapan awal, yaitu meningkatkan pendapatan petani. Hingga bulan Juni 2018 lebih dari 317 ribu rumah tangga petani telah mengadopsi praktik pertanian baru. Produktivitas pun terkerek naik. Dari jumlah tersebut, pendapatan lebih dari 221 ribu rumah tangga telah meningkat sekitar 1,419 triliun berkat daya saing pasar mereka yang lebih baik. Semua ini tak lepas dari keterlibatan 122 institusi pemerintah dan swasta yang bermitra dengan PRISMA.

Tantangan dan Kendala

Selama pelaksanaan program PRISMA ditemukan beberapa tantangan dan kendala yang harus diatasi. Pertama, pendekatan pengembangan sistem pasar ini merupakan hal baru, belum pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. Kedua, kondisi lingkungan bisnis yang tak mendukung bisa menyebabkan intervensi mitra swasta dan petani mengalami kegagalan. Ketiga, perlu upaya lebih untuk meyakinkan sektor swasta bahwa sekalipun kemitraan swasta dan petani ini berisiko, tetapi pada ujungnya program ini akan menghasilkan keuntungan tambahan bagi mereka.

Analisis Dampak Sosial Ekonomi

PRISMA melakukan penilaian dampak pada setiap kegiatan yang dilakukan di lapangan melalui berbagai indikator. Di antaranya peningkatan pendapatan, penurunan kemiskinan, partisipasi berdasarkan gender, investasi dari sektor swasta.

Contoh keberhasilan penerapan program PRISMA adalah pada komoditas jagung. Sebelumnya produktivitas petani jagung relatif rendah. Ini disebabkan oleh penggunaan benih lokal lama, serta buruknya GAP (Good Agriculture Practices). Pun benih hibrida yang selama ini digunakan kurang terasa manfaatnya. Sementara itu pengetahuan dan ketrampilan budidaya petani masih terbatas dan kurang mendapatkan penyuluhan oleh pihak swasta.

Menghadapi kondisi tersebut, PRISMA pun bermitra dengan pemerintah daerah dan pihak swasta untuk melakukan intervensi. Misalnya, petani jagung Madura mendapat promosi benih jagung hibrida sekaligus penyuluhan GAP. Mitra swasta pelaksana promosi ini adalah PT. AHSTI, Syngenta, DuPont, dan BISI. Selain itu pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian Sumenep, dan pihak swasta berkolaborasi  untuk menghasilkan rencana UPSUS yang lebih baik.

Dinas Pertanian di tingkat kabupaten dan perusahaan swasta juga bekerja sama untuk mengindentifikasi penerima subsidi untuk UPSUS 2017. Ini dilakukan untuk menghindari tumpang tindih dengan konsumen jagung hibrida yang telah ada. Kemudian dinas pertanian dan pihak swasta akan melatih penerima subsidi dalam GAP dan GHP (Good Handling Practices).

Kerja sama ini membuahkan hasil yang memuaskan. Melalui kemitraan dengan PT AHSTI selama kurun waktu 2014 sampai 2016, promosi jagung hibrida dan GAP telah dilakukan terhadap 18.500 petani. Penggunaan benih hibrida tersebut memberikan keuntungan setidaknya pada 6.300 petani. Peningkatan produktivitas rata-rata mencapai 4 MT/Ha.  Alhasil, pendapatan petani penerima manfaat pun meningkat sebesar 196 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *